Forgetting is never a Piece of Cake

Perhaps the only reason I haven’t been able to start my life again is I still save you somewhere in my heart. Even though  I’ve said get the fuck out of my life a thousand times, I can’t deny the fact that I hardly forget you. Why? Yes, why?

Why should I be in this situation again? Why can’t I get over you? Why can’t I get over this feeling? What is it that makes me want you? I should have got rid of you a long time ago. I know that there’s no story between us. Even if there were, would that make any difference?

If only memories were allowed to be taken, then I would give up the memory of you and me. I’d let this sink to the deepest ocean so that no one would ever find out.

I have always been waiting the moment when you truly disappear from my soul. I realize the waits will never be a piece of cake, but I really wish I could get it through though I have no idea how long it will take. I am putting as much effort as I am willing to. So, please liberate me from your shadow, allow me to take a sip of a new life, let me treasure a new world.

(a reflection after another dream of you)

Posted in contemplation, feeling, memories, memory, miscellaneous, reflection, thoughts, world | Leave a comment

New Work = New World?

It has been almost 2.5 months since I started working at a new institution. I am so happy that what I wrote on my blog finally comes true. “I have always wanted to work with the community, be it a teacher, a staff at international NGO, and so on.” I am accepted as a faculty member at a higher learning institution. The job requires competence, responsibility, honesty, and dedication. I say my requirements are not adequate yet. I need to learn a lot.

Just as I think that I successfully escape from the whole bureaucracy thingy, I am suddenly asked to help at International Office, which means doing administrative tasks, dealing with bureaucracy, and connecting with people. The fact that I can’t cut off my relationship with my previous institution somehow weighs something. Burden? Yeah, probably. Responsibility? Of course. There is just one thing that I should keep in mind. I can’t just deny of what I am or what I have always been including my background, my past, everything. Cause each time I need to escape or seek for a relief, I always find a new thing yet similar.

The tasks make me worry in a way that I can’t manage my time well. I am so afraid that I perform more on non academic tasks than non academic ones. I’ll try my best, I hope I can be as much persistent as I wanna be.

A new position doesn’t always mean a new world. “Same old brand new you” by A1 is probably the theme song for today’s reflection.

By the way, I watched Takuya Kimura and Bon Jovi on youtube this morning. They sang ” We weren’t born to follow” and “It’s My Life.” The songs are amazing and their lyric does lighten up my day. Never give up or give in Tsuroyya!

Oyasumi, everyone

Posted in job, miscellaneous, thoughts, work, world | Leave a comment

Friendship

I’d say friendship comes up from a bond between two people and common things that they share. It requires trust, negotiation, and in depth undertanding among  the two or more. A colleague of mine says “People always come and go, but friendship stays forever.” Perhaps one takes a long time to finally agree with the statement, but I found the truth alright. :)

Three or four years ago, my best friend attended an international seminar on HIV/ AIDS in Srilangka a week before I went to the States. Returning from the seminar, she was looking for a job while I had already got one. She finally got a position at a private bank when I was already in the States. She wondered if I were not who I had always been when I finished my Master’s degree. I said “I am me and always be myself.” She envied me for studying abroad. I convinced her that she would be abroad someday, someway.

Good news came through around September last year. She said she was nominated for an international competition for contact centers. I was very happy for her. She asked several things including making sure that her answers suited the questions. I was glad that I could help. She got through a lot: trainings, suggestions, revisions, discrimination as well. I reassured her, “You’ve done your best. Now, let God do the rest.”

Last week, she went to Australia for the competition. SHE MADE IT. I just received her message yesterday. She will be invited to the next round competition in Las Vegas in November. I am so happy for her and unbelievably touched by this good news. To tell the truth, now I envy her a lot :D .

After all, everything that both of us do will go the same destination though this takes different pathways to reach. Lastly, the prayers come true, I don’t know how … the paths that we take somehow reflect our bond, shared things, and sincere feeling of gratitude for having a wonderful friend.

Posted in miscellaneous, thoughts | Leave a comment

Awesome Friends

I am grateful to have wonderful friends everywhere. Each time I feel blue, someone just pops up and lights up my day…

Thanks for besties and friends (who seem lost for a while) but know exactly the very condition of me.

From the bottom of my heart, I thank you all….

Posted in miscellaneous | Leave a comment

supplication

Sungguh hidup, mati,  ujian, dan rizqi adalah rahasia-Mu. Ku tak menyangkalnya. Jika manusia bisa memperkirakan kapan dia akan menghembuskan nyawa, maka takkan ada hamba-Mu yang berpaling dari-Mu. Tak ada konsep neraka, tak ada syaitan yang tidak tunduk kepada Adam, tak ada perang, dan tak ada dajjal dunia.

Engkau adalah Maha segalanya yang Mengetahui setiap detil makhluk ciptaan-Mu. Engkau Maha Tahu seberapa besar kemampuan hamba-Mu untuk menerima ujian, cobaan, bahkan adzab (tsumma na’udzubillah min dzalik) dari-Mu. Sekali lagi hamba merasa tak mampu untuk Engkau gembleng dengan ujian ini. Sekali lagi hamba merasa rapuh, tidak tahu ke mana harus mengadu.

Meski hamba tidak akan pernah bisa mengetahui rahasia-Mu, beri hamba sedikit kekuatan untuk mampu melangkah tegak di jalan-Mu, beri hamba sedikit kesabaran agar tidak mudah rapuh dan tenggelam dalam penyesalan serta mimpi semu, beri hamba  bahu yang sedikit tegap untuk menopang kerabat yang sedang dalam kesulitan, beri hamba sedikit rizqi dan umur yang berkah agar hamba bisa bermanfaat bagi orang lain….

ini yang sekarang hamba alami… hamba benar-benar tidak tahu hamba harus bersyukur atau bersedih. Bersyukur Engkau pilih untuk menerima ujian ini dan bersedih dengan kenyataan dari ujian ini. Hamba paham sepenuhnya bahwa hamba penuh khilaf dan dosa. Hanya mengadu di kala dalam kesusahan dan lalai mengingat-Mu ketika mendapat nikmat.

Hamba memohon agar semuanya akan berakhir dengan baik. Hamba benar-benar takut kejadian yang sama akan terulang. Allah, jangan jadikan hamba tidak tunduk kepada-Mu. Karuniai hamba dengan  rasa ikhlas dan qonaah. Yang lalu hamba berharap seluruhnya kepada-Mu, namun takdir-Mu berkata lain dan hamba tak kuasa menerimanya dengan ikhlas. Hamba takut kejadian yang sama akan berulang dan berulang lagi. Hilangkan saja perasaan ini Ya Allah. Hamba akan selalu bergantung kepada-Mu dan mengharapkan pertolongan-Mu. Karuniai hamba untuk tumbuh dan berkembang demi mengabdi kepada-Mu.

Biarlah rahasia-Mu tersimpan di Lauhil Mahfudz, namun kabulkanlah permohonan hamba-Mu yang rendah ini…..

Ud’uunii astajib lakum

Posted in miscellaneous, thoughts | Leave a comment

Coincidents? Probably…

The world has been pretty much revolving now. Say the revolutions in Tunisia, followed by Egypt. The revolution occurs to replace the authoritative regime in the Arab world. Now, this takes place in Yaman, Algeria, Bahrain, and other Arab countries. Hopefully, these shifts will be a new start in the Arab world toward what they call democracy.

Meanwhile, several riots occur in Indonesia. Unfortunately, they have to do with religion (I say faith) differences. They are one in Cikeusik and in Temanggung. Again, Muslims are the suspects of all these riots. What makes me curious is why these two riots happen just before Baasyir’s (the suspect of terrorism act in Indonesia) court is held. Coincidents? Probably…

You TELL me .

Posted in ahmadiyah, cikeusik, Egypt revolution, Islam, islamophobia, miscellaneous, riots, temanggung | Leave a comment

Jalan Hidupku

Frank Sinatra

Dan sekarang akhir perjalananku sudah dekat

Lalu aku akan menghadapi fase terakhir dalam hidupku

Kan ku katakan dengan jelas

Kan ku kisahkan kehidupan yang ku yakini

Aku telah hidup dengan menggapai impian-impianku

Aku menapaki setiap tanjakan

Dan lebih dari sekedar tanjakan-tanjakan ini

Aku menapakinya dengan caraku

Terdapat beberapa penyesalan

Namun terlalu sedikit untuk ku ceritakan

Aku melakukan apa yang harus ku lakukan

Dan melihatnya berlalu tanpa berbuat apa-apa

Aku merencanakan setiap arah jalan hidupku

Tiap langkah yang penuh kehati-hatian di sepanjang jalan setapak

Dan lebih dari sekedar langkah-langkah ini

Aku merencanakannya dengan caraku

Ya, memang ada beberapa waktu yang ku yakin kamu tahu

Ketika aku melakukan lebih dari yang kumampu

Namun dalam keraguan kulalui semuanya

Kutelan dan kumuntahkan semua keraguan itu,  aku hadapi semuanya

Aku tetap tegar dan melaluinya dengan caraku

Aku telah mencintai, tertawa, dan menangis

Aku telah bertahan dari perasaan kehilangan

Dan sekarang, seiring air mataku telah surut

Aku menganggap semuanya sebagai pengalaman yang menyenangkan

Berpikir bahwa aku telah melakukan itu semua

Dan aku tidak malu mengatakannya

Tidak, tidak, tidak

Itu bukan aku

Karena seseorang dinilai dari apa yang dia punya

Jika bukan tentang dia sendiri, maka dia belum mengatakan apa yang benar-benar dia rasakan

Dan bukan kata-kata seseorang yang memohon

Keyataannya aku telah menghadapi begitu banyak guncangan dan melewatinya dengan caraku

Ya, itulah jalan hidupku

Translated by Tsuroyya (edited by Renzy)

Posted in frank sinatra, my way, song | Leave a comment

Fikirku “Samurai: Istana Burung Gereja” dan “Suzume-no Kumo”

Fikirku “Samurai: Istana Burung Gereja” dan “Suzume-no Kumo”

Genji, ksatria bersenjatakan pedang yang flamboyan – sake dan wanita adalah kegemarannya— lebih mirip sosok yang lemah di permukaan. Meski dia seorang bangsawan dan juga samurai, hatinya—tak seorangpun yang bisa menebak. Ketika pengikutnya menyangka dia terlalu murah hati dengan pengaruh dan keberadaan orang asing, pandangannya justru melangkah jauh ke depan –mungkin bakatnya atau lebih tepat kutukannya sebagai peramal yang membuatnya bersikap demikian dan cenderung bertindak tak gegabah.

Lalu ketika Jepang masih sangat erat dan konvensional terhadap tradisi ke-samurai-an, dia sangat menyayangkan hal ini dan berkata Jepang akan ketinggalan jauh oleh negara-negara barat jika hanya bertengkar dan menumpahkan darah atas nama sejarah, sopan santun, dan hal-hal sepele. Aku salut pada sikap Genji ini.

Tapi bukankah sisi kebangsawanan Akaoka-nya terkoyak ketika dia mengetahui bahwa Heiko—geisha yang dicintainya adalah anak dari Eta—kelompok rendahan yang bahkan tak pantas disebut sebagai manusia. Lalu siapa kamu sebenarnya Genji? Orang yang sangat pro terhadap perubahan dan tidak setuju dengan adat sopan santun Jepang, begitu tercoreng dan terusik harga dirinya hingga ingin membumihanguskan Desa Eta. Apakah kamu benar-benar ksatria burung gereja ataukah kau hanya sosok bangsawan yang masih sangat enggan untuk mengakui kealpaan-mu? Di mana letak prinsip samurai sejati yang biasanya kamu agung-agungkan? Genji, oh Genji… “hidupku tak lebih berarti ketimbang mati” begitu katamu. Tahu dan tidak tahu merupakan satu kesatuan—begitu juga dengan terbuka dan tertutup. Akhirnya aku mengerti …..

Kata Romo Haryatmoko dalam Filsafat Hermenetika (Filsafat Kecurigaan) teks dapat bermakna apapun sesuai dengan interpretasi audiensinya, bisa meluas, bisa juga menyempit. Bisa pro atau kontra atau bisa keduanya maupun tidak kedua-duanya.

Jadi berikut ini fikirku mengenai Suzume-no Kumo

“kata-kata dapat melukai
diam dapat menyembuhkan
tahu kapan untuk bicara,
dan kapan saatnya diam
adalah kearifan seperti yang diceritakan hikayat.”

Mungkin kalimat yang filosofis ini merupakan gambaran seorang samuarai Jepang, seorang ksatria sejati yang lebih banyak menegaskan sikapnya dengan perilaku dan tindakan. Tanpa sepatah kata, jika seseorang melanggar tradisi Jepang maka seorang samurai tanpa ragu akan menebas kepalanya, melainkan dia bangga dengan tindakannya itu karena dia telah menjaga tradisi yang sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Jepang. Junjungan seorang samurai adalah pemilik hidupnya. Apapun yang dikatakan sang junjungan, samurai hanya akan mengatakan “hamba mendengar dan hamba patuh.” Jika sang junjungan mengajaknya berdiskusi, dia akan bertindak sesuai dengan tingkat ke-samurai-annya. Sebagian besar mereka hanya mengatakan “tuanku, terima kasih, ampun.” Jawaban yang sangat singkat bukan. Sesuai dengan kata-kata bijak di atas, samurai sangat paham memahami posisinya untuk mengeluarkan pendapat atau pun hanya bertindak.

Interpretasi yang lain yang sempat muncul dalam benakku adalah hal ini sangat mirip dengan apa yang diajarkan oleh Islam. Bukan kah Nabi juga pernah bersabda bahwa lidahmu adalah pedang. Apapun yang dikeluarkan oleh lidah berbentuk kata-kata merupakan senjata yang dapat melukai orang lain bagai sebilah pedang. Diam sangat dianjurkan dalam Islam ketika seseorang tidak mengetahui apa yang sedang dibicarakan ataupun ketika dia mengira bahwa kata-kata yang dikeluarkan dapat menyakiti perasaan orang lain.

Namun yang paling penting dari kata-kata bijak ini adalah diam bukan berarti pasif dan bersikap pasrah. Bukan  kah dalam jawa ada yang mengatakan “sing waras ngalah”? Tapi bukankah seperti itu yang diinterpretasikan banyak orang? Diam untuk kemenangan di akhir. Seorang samurai tidak akan bersikap demikian. Dia akan melawan dengan tindakan jika apa yang diyakini sedikit saja tercoreng.

Ah, lagi-lagi ini membuatku berfikir jauh mengenai hal-hal yang berbau kekerasan yang mengatasnamakan agama, negara, dan suku. Alexander the Great pernah memimpin perang salib, Salahuddin pernah memimpin perang atas nama Islam, Hindu dan Budha pun tidak luput juga tak luput dari pertumpahan darah. Lalu, seberapa besarkah pengaruh ideologi ini? Diam untuk agama, diam untuk hal yang terjangkau oleh akal fikir manusia, dan diam ketika tidak berdaya menghadapi kekuasaan.
“pengetahuan dapat menghambat
ketidaktahuan justru dapat membebaskan
tahu kapan saatnya untuk tahu,
dan kapan saatnya untuk tak tahu,
adalah kearifan para nabi dan kaum bijak.”

Kata-kata bijak seperti ini pun bagiku tetap bagai pisau bermata dua. Sangat bermanfaat bagiku, untuk kesekian kalinya menjadi orang awam ataupun orang bodoh. Yang berfikir untuk diri sendiri dan keluargaku tanpa pusing urusan dunia lain. Tak perlu tahu birokrasi, politik munafik, maruknya manusia akan keperluan dunia. Dengan demikian aku tak sakit hati memusingkan hal-hal yang jauh dari jangkauanku. Hidup hanya untuk-Nya, seperti santri yang dengan tekun mengaji dan mengaplikasikan apa yang diajarkan oleh Islam. Layaknya seorang biarawati yang hanya patuh untuk melayani umat. Ataupun seorang biksu yang mengandalkan hidup dari alam dan selalu mengagungkan rahmat sang penguasa alam semesta.

Tapi di sisi lain, fikirku, jika terlalu banyak orang awam di bumi ini, orang yang sudah gila dunia akan semakin menjadi-jadi. Mereka bertindak dengan semena-mena, menghancurkan si miskin, menindak yang tak bersalah, dan menjerat rakyat dengan hutang yang besar. Pendapatan negara pun semakin menipis karena kasus korupsi semakin meningkat. Akan dibawa ke mana dunia ini? Kehancuran? Pastinya. Hanya ada 3 hal bukan yang pasti di dunia ini? Hidup, mati, dan hari kiamat.

“tak terganggu oleh kata-kata, ke-diam-an,
pengetahuan atau ketidaktatahuan,
sebuah pedang tajam menebas tajam
ini adalah kearifan seorang prajurit.”
(1434)
taken from: Takashi Matsuoka’s SAMURAI: Cloud of Sparrows Castle

Seandainya aku seorang ksatria, maka aku akan bersyukur karena aku dapat bertindak tegas walau apapun yang menghalangiku. Tetapi, bukankah kadang-kadang ketegasan juga selalu membawa pada kekonyolan? Mengapa pecinta klub sepak bola tertentu rela mati demi klubnya itu? Walau apapun yang terjadi? Mungkin sebenarnya ketika seseorang tegas pada kebenaran dan kebajikan, maka dialah tonggak sejarah dunia. Wa Allahu a’lam bish showab.

Posted in miscellaneous, thoughts | Tagged , , , | 3 Comments

A Letter to Gie “Soe Hok-gie, Sekali Lagi …”

Usai membaca Gie rasanya saya merasa dikuliti oleh goresan-goresan tintanya. Kritiknya yang tajam mampu menyihir saya yang selama ini tertidur cukup panjang. Gie, kenapa kamu hadir terlambat dalam dunia saya? Ataukah saya yang ketinggalan kereta? Saya sempat bertanya, apa yang saya lakukan sewaktu saya masih duduk di bangku kuliah sarjana? Saya tak sempat memikirkan apa yang kamu utarakan dengan lugas dan kritis dalam “Catatan Seorang Demonstran” mu. Saya masih terlena dengan keluarga sendiri, bagaimana cara bertahan hidup, bagaimana saya dapat menyelesaikan kuliah dengan dana yang sangat kurang, bagaimana menjadi pemburu beasiswa, dan lain sebagainya. Ah Gie, dunia saya mungkin terlampau sempit bagi kamu. Tapi yang saya tahu Gie, dulu saya sangat berempati kepada anak-anak yang tidak dapat meneruskan pendidikannya karena kekurangan biaya. Sampai sekarang, saya masih terenyuh, Gie. Saya ingin berbuat sesuatu untuk mereka. Saya ingin mereka tidak mengalami kesulitan-kesulitan yang saya hadapi.

Gie, bangsa ini seperti kata kamu sudah semakin tak menarik saja. Pemerintah dan anggota DPR semuanya sama. Senang dengan aturan politik dagang sapi, lobi-lobi politik pedagang yang selalu mengutamakan untung. Bukan untuk rakyat Gie, tapi untuk perut mereka sendiri dan kroni-kroninya. Gie, kamu menulis bahwa ada dua jenis manusia di dunia ini. Pertama adalah orang yang idealis absolut, orang yang tidak pernah mau kompromi begitu dia melihat ketidakadilan dan ketimpangan yang terjadi di masyarakat. Kedua yaitu negotiated man, orang yang berkompromi for the greater good in the future. Orang-orang yang mau mengalah demi kemenangan di akhir kisah. Gie, mungkin saya adalah tipe orang pertama yang tidak pernah mau berkompromi akan suatu ketimpangan atau katakanlah saya keras kepala (orang lain bilang saya munafik dan sok suci). Apa yang menurut nurani saya tidak benar. Tapi, Gie saya juga tidak ingin membohongi diri sendiri bahwa saya orang idealis absolut “meskipun tidak kemutlak-mutlakan” katamu. Saya merasa senang bahwa ada rekan-rekan sejawat yang memang masih memegang teguh prinsipnya walaupun mereka bersikap kompromi, tidak berkepala batu seperti saya.

Saya saat ini bekerja di pemerintahan Gie yang sangat rentan dengan ketimpangan-ketimpangan. Gie, saya hanya bisa bertindak sebatas yang saya mampu. Saya tidak melakukan hal-hal yang kamu lakukan. Mengungkap semuanya dengan gamblang, Gie. Saya hanya bisa berkata, saya tidak akan melakukan apa yang biasa “mereka” lakukan entah itu korupsi kecil-kecilan, ataupun saling sikut demi kepentingan sendiri padahal nyata-nyata anak jalanan itu masih ada dan mereka tidak mengenyam pendidikan. Gie, mungkin hanya kamu yang mengerti kegelisahan ini. “Mereka” telah terbiasa dengan gaya-gaya feodal, setiap tamu harus menyerahkan upeti. Gie, pertanyaan kamu sangat mirip dengan punya saya. Kapan Gie, kapan semua ini akan berakhir dan berubah untuk tujuan yang selalu diperdengarkan oleh angkatan 45 dan 66? Ke mana Gie, ke mana saya harus mencari jawabannya? Engkau mungkin suka mengucilkan diri di gunung, lalu saya? Saya belum bertemu dengan alam secara sewajarnya.

Jujur, Gie. Saya takut jika saya berada di tempat ini terlalu lama, lambat laun akan mati pula nurani saya. Gie, untuk sebuah laporan saja “mereka” mampu membuatnya fiktif. Bukan salah pejabat keuangan Gie, sebagian besar dari pejabat keuangan itu mau tidak mau menjadi “yes man” pimpinan-pimpinan yang tidak mau mengerti dan berbuat semau gue aja, Gie. Kerjaan yang utama cuma jadi sekedar penggembira dalam rangka mengejar untung sebanyak-banyaknya. Kerjaan jadinya UUD (Ujung-Ujungnya Duit, Gie). Sebuah istilah yang baru mungkin bagi kamu Gie J.

Tapi ada juga yang memang masih sangat concern dengan pendidikan kita, Gie. Si Freire bilang bahwa alat untuk membasmi kemiskinan adalah pendidikan. Mereka yang concern berharap bahwa program-program yang disiapkan bisa mencapai target yaitu rakyat biasa, Gie yang selama ini cuma jadi objek penderita (benar-benar menderita). Tapi mereka ini tidak punya kekuasaan Gie, tidak ada jabatan, tidak mau berafiliasi menjadi antek partai yang kebanyakan korup. Ada yang memiliki jabatan, tapi segera disingkirkan. Program dialihkan, semua fakta dianulir dan terkesan adanya tumpang tindih dalam tanggung jawab. Gie, apa begini memang nasib bangsa kita? Nasib orang-orang yang masih idealis? Haruskah saya juga ikut berputus asa, Gie?

“Mereka” melakukan korupsi secara terang-terangan. Kata orang, ini zaman reformasi. Tapi Gie, apa sih sebenarnya yang direformasi? Yang tadinya tersembunyi menjadi terang-terangan termasuk korupsi? Gie, saya sebenarnya sudah apatis terhadap apa yang saya kerjakan.

Posted in miscellaneous, thoughts | Tagged , , , , , | Leave a comment

:: that was all a lie ::

That was all a lie, wasn’t it? It was a lie from the start.

If it has to be this way, so be it. I’ll get over it.

I believe in Karma what you give is what you get returned
I believe you can’t appreciate real love until you’ve been burned
I believe the grass is no more greener on the other side
I believe you don’t know what you’ve got until you say goodbye

(Savage Garden’s lyric: affirmation)

Posted in miscellaneous | Tagged , | Leave a comment